Dana Investasi Haji | Bergantung Pada Sebab | Hisab Orang Kafir

August 3, 2017

Polemik dana haji untuk investasi

Beberapa waktu terakhit ini kaum Muslimin diramikan tentang perihal dana haji yang konon akan digunakan untuk investasi oleh pemerintah. Bagaimana pandangan syariat akan hal ini?

Ustadz Ammi Nur Baits, BA. dalam situs konsultasisyariah.com menjelaskan, bahwa akad pembayaran haji adalah akad transaksi jasa. “Khusus untuk akad jasa, boleh tidak tunai keduanya. Uang tidak tunai, jasa juga tidak tunai. Dalam keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami ad-Dauli (International Islamic Fiqh Academy), dinyatakan,

Dalam akad istishna’ boleh menunda semua pembayaran, atau dicicil senilai tertentu sampai batas waktu tertentu. (Qarar Majma al-Fiqh al-Islami, 67 /3/ 7).

“Dalam akad istishna’, objek transaksi berupa produksi barang, yang di sana ada bentuk jasa pembuatan”, jelas Ustadz Ammi.

Maka uang dana haji yang sudah dibayarkan sudah sah milih Kemenag, sehingga kesimpulan beliau,

“karena dana BPH sudah menjadi hak milik kemenag, maka mereka memiliki wewenang apapun untuk menggunakan dana ini, sesuai yang dia inginkan. Termasuk meng-investasi-kan dana ini untuk infrastruktur atau unit produktif lainnya. Sementara Calhaj tidak lagi memiliki sangkut paut dengan dana itu. Karena bukan lagi uangnya.

Hanya saja, Calhaj harus diberangkatkan, apapun kondisinya, sesuai nomor porsi yang dia terima.

Jika ternyata terjadi kerugian terhadap BPH, Calhaj sama sekali tidak bertanggung jawab atas kerugian itu, dan mereka tetap memiliki hak untuk diberangkatkan sesuai nomor porsi. Dan jika pemerintah tidak memberangkatkan Calhaj, maka terhitung sebagai tindak kedzaliman”.

Simak selengkapnya di sini.

Jangan bergantung pada sebab

Tahukah Anda, di negeri dengan penduduk yang terkenal dengan orang-orang workaholic atau mempunyai komitmen yang tinggi untuk bekerja sekalipun seperti Jepang ternyata memiliki 25 ribu gelandangan. Sejumlah 1.697 diantaranya berada di Tokyo. Mayoritas dilatar belakangi kegagalan. Ketika mereka mengalami kegagalan dalam sebuah rencana, mereka akan menghilangkan identitas dirinya dengan menjadi gelandangan; meninggalkan rumahnya, meninggalkan keluarganya karena mereka merasa malu dengan kegagalan yang dialami, bahkan sampai pada puncaknya ada diantara mereka yang sampai bunuh diri. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki tawakal dan mereka tidak tau konsep bagaimana ridha pada keputusan Allah subhanahu wata’ala dan hal itu berangkat karena mereka tidak memiliki Tuhan.

Situs Muslimah.or.id mengangkat tema ini dan memberikan pengajaran berharga dalam menyikapi ikhtiar dan sebab Disebutkan, “Bersemangatlah dan jangan malas dalam ikhtiar dengan mengambil sebab, namun sebagai insan yang beriman pada takdir Allah kita tidak boleh hanya bergantung pada sebab. Ketika sudah melakukan sebab maka bertawakallah kepada Allah dan sabar serta ridha dalam menyikapi hasil yang diberikan oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan janganlah kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah ‘Qaddarullah wa maa sya’a fa’ala’. Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu syetan”. (HR. Muslim)”.

Simak selengkapnya di sini.

Hisab untuk orang kafir di akhirat

Kita yakin bahwasanya kelak di akhirat, amalan kita akan dihisab. Namun para ulama berbeda pendapat, apakah hisab pada hari kiamat ini berlaku untuk semua manusia, baik muslim ataupun kafir, atau hanya khusus berlaku untuk orang-orang beriman saja?

Ustadz Muhammad Saifuddin Hakim menjelaskan hal ini dalam situs Muslim.or.id. Beliau menguatkan pendapat bahwa orang kafir pun akan dihisab, “Orang-orang kafir akan dihisab di akhirat untuk menunjukkan atau menampakkan amal perbuatan mereka dan membalasnya, sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam surat Al-An’am ayat 30 di atas. Sebagaimana juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 13)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Mereka tidaklah ditanya dalam rangka belas kasihan atau memberikan rahmat Mereka itu hanyalah ditanya dalam rangka mencela dan merendahkan mereka, mengapa kalian berbuat seperti ini dan seperti itu?”

“Mereka tidaklah dihisab dalam ranka menampakkan dan meminta pengakuan atas amal baik dan amal buruk, karena orang-orang kafir tidaklah memiliki amal kebaikan sedikit pun”, jelas Ustadz Muhammad Saifuddin Hakim.

Simak selengkapnya di sini.

comments powered by Disqus