Tidak Boleh Menyiksa Dengan Api | Syarat Hijab Syar'i | Silaturahim Bertabur Pahala

August 16, 2017

Tidak Boleh Menyiksa Dengan Api

Kasus pembakaran hidup-hidup orang yang tertuduh sebagai pencuri amplifier cukup menjadi sorotan publik. Selain karena termasuk perbuatan main hakim sendiri, kasus ini juga melibatkan perbuatan yang keji yaitu menyiksa orang dengan api.

Islam tentu tidak merestui tindakan main hakim sendiri, karena hukuman hadd dan kasus jinayat (kriminal) adalah domain ulil amri. Jika semua orang diberi hak untuk memberikan hukuman hadd maka dunia akan kacau balau.

Di sisi lain menyiksa makhluk hidup dengan api adalah perbuatan yang dilarang keras dalam Islam. Ustadz Raehanul Bahraen menjelaskan perihal ini dalam situs Muslim.or.id. Beliau mengatakan: "Ada satu larangan yang sangat keras, yaitu agar tidak membunuh dan menyiksa dengan api, baik terhadap hewan maupun manusia. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Rabbnya api (Allah)", jelasnya.

Beliau juga menjelaskan perselisihan ulama mengenai hal ini, "pendapat terkuat adalah TIDAK boleh menyiksa dan membunuh dengan api", tegasnya.

Bahkan beberapa ulama mengatakan barangsiapa membakar seseorang maka ia juga dihukum dengan cara dibakar.

Selengkapnya simak artikel berikut: http://situssunnah.com/articles/tidak-boleh-menyiksa-dengan-api

Syarat hijab Muslimah yang Syar'i

Berhijab tidak sekedar menutup aurat. Inilah banyak dilalaikan kaum Muslimah sekarang, sehingga mereka pun berhijab namun tidak mencegah mata-mata para lelaki untuk tertarik melihat mereka. Karena hijab yang mereka kenakan tampak menarik, penuh perhiasan, ketat dan lainnya.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam situsnya rumaysho.com kali ini membahas mengenai syarat-syarat hijab Muslimah yang syar'i. Yang beliau sarikan dari bahasan Syaikh Shalih bin Fauzan bin 'Abdillah Al-Fauzan hafizahullah dari kitabnya Tambihaat 'ala Ahkam Takhtash bi Al-Mukminaat.

Syarat-syarat tersebut adalah:

  1. Pakaian muslimah wajib menutupi seluruh tubuhnya ketika berada di hadapan laki-laki bukan mahram. Kalau di hadapan mahramnya, wanita hanya boleh menampakkan yang biasa nampak yaitu wajah, telapak tangan dan kakinya.
  2. Pakaian muslimah tidak boleh tipis sehingga jadi tembus pandang.
  3. Pakaian muslimah juga tidak boleh sempit yang menampakkan bentuk lekuk tubuhnya.
  4. Pakaian muslimah tidak boleh mirip pakaian pria. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyerupai pria, begitu pula pada pria yang menyerupai wanita.
  5. Tidak boleh wanita bertabaruj ketika keluar rumah. Tabarruj artinya menampilkan perhiasan dirinya.
  6. Yang dimaksud dengan hijab adalah seorang wanita menutupi badannya dari pandangan pria yang bukan mahramnya

Andaikan syarat-syarat ini terpenuhi maka hijab Muslimah akan menjaga dirinya bukan malah memancing ketertarikan kaum lelaki, insya Allah.

Selengkapnya simak tulisan beliau di: http://situssunnah.com/articles/hijabku-sudahkah-sempurna

Silaturahim bertabur pahala

Silaturahim adalah budaya masyarakat kita yang positif. Bahkan kata shilatur rahiim yang merupakan bahasa Arab sudah diserap menjadi bahasa Indonesia. Namun ketahuilah bahwa silaturahim ini bukan sekedar budaya, namun juga tuntutan syariat yang mengandung keutamaan yang besar.

Ustadz Sa'id Abu Ukasyah memaparkan tentang hal ini, beliau mengatakan: "Silaturahim merupakan ibadah yang berpahala besar dan dicintai Allah 'Azza wa Jalla. Sebaliknya orang yang memutus jalinan Silaturahmi akan membuat murka-Nya".

Beliau juga menjelaskan bahwa silaturahmi bukan sekedar rutinitas, namun hendaknya diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Bahkan secara umum silaturahmi sarana untuk membina ukhuwah Islam. Silaturahmi juga bisa memotivasi kaum muslimin dalam mensyiarkan syariat Islam. Rasulullah Shallalahu'alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah shilaturahim"

Beliau juga bersabda : "Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung Silaturahmi itu adalah orang yang membalas kebaikan, namun orang yang menyambung Silaturahmi adalah orang yang menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan Silaturahmi".

Selengkapnya simak artikel: http://situssunnah.com/articles/silaturahmi-bertabur-pahala

comments powered by Disqus